Ditahan Israel 2 Tahun Tanpa Dakwaan

Seorang warga Palestina ditahan dalam penahanan administratif Israel lebih dari dua tahun tanpa dakwaan atau persidangan, menurut laporan Aljazeera.net.

Ditahan Israel 2 Tahun Tanpa Dakwaan
"Aljazeera.net melaporkan bahwa ia mendekam dalam tahanan administratif Israel selama dua tahun lebih, tanpa pernah diadili."

TOPIKPUBLIK.COM – PALESTINA – Gerakan Perlawanan Islam Hamas pada Senin (1/7) mengumumkan gugurnya Luay Nasrallah, seorang tahanan Palestina yang menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Soroka, Be’er Sheva, Israel. Ia dipindahkan dari Penjara Negev dalam kondisi kritis setelah mengalami penyiksaan brutal dan perlakuan tidak manusiawi di dalam penjara pendudukan Israel.

Dalam pernyataan resminya, Hamas menyampaikan peringatan keras tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di penjara-penjara Israel, tempat ribuan tahanan Palestina ditahan dalam kondisi yang merendahkan martabat kemanusiaan. Mereka menegaskan bahwa praktik balas dendam, kekerasan sistematis, dan penyiksaan yang terus berlanjut merupakan bentuk kejahatan yang melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia paling mendasar.

“Pembunuhan para tahanan di balik jeruji besi adalah kejahatan sistematis yang tidak boleh dibiarkan. Dunia tidak boleh tinggal diam menyaksikan penderitaan ini,” tegas Hamas dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Hamas menyerukan mobilisasi besar-besaran di semua tingkatan—baik resmi, rakyat, maupun lembaga hak asasi manusia internasional— untuk menekan Israel dan menyuarakan solidaritas terhadap para tahanan yang menghadapi kekerasan struktural dan kebrutalan rezim pendudukan.

Tragedi yang menimpa Luay Nasrallah bukanlah kasus tunggal. Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina mengungkapkan bahwa Luay ditahan tanpa pengadilan dalam skema tahanan administratif selama lebih dari dua tahun—tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, dan tanpa proses hukum yang adil. Ironisnya, ia sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit, namun tubuhnya lemah saat dibawa keluar penjara dan akhirnya meninggal dunia tak lama setelahnya.

Sejak dimulainya agresi militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, jumlah korban dari kalangan tahanan terus bertambah. Puluhan warga Gaza dilaporkan tewas di dalam penjara Israel, sebagian besar karena penyiksaan berat, kondisi detensi yang mengerikan, dan minimnya akses medis.

Berbagai laporan dan kesaksian dari mantan tahanan serta organisasi HAM terus mengungkap praktik-praktik pelanggaran, termasuk penahanan di fasilitas rahasia seperti kamp militer Sde Teiman di wilayah Negev—yang oleh para aktivis disebut sebagai pusat kejahatan terhadap kemanusiaan dan pemusnahan psikologis para tahanan Palestina.

Kematian Luay Nasrallah kini menjadi simbol penderitaan dan perlawanan. Ia menambah panjang daftar para syuhada yang gugur bukan hanya karena peluru, tetapi juga karena rezim penjara yang digunakan sebagai alat penghancur martabat manusia Palestina.