Petang Belimau Riau 2026 Meriah, Warga Padati Tepian Sungai Siak Jelang Ramadan
Tradisi Petang Belimau 2026 di Pekanbaru diikuti ribuan warga. Plt Gubri dan Wali Kota sepakat tradisi budaya Melayu ini harus dilestarikan.
PEKANBARU, TOPIKPUBLIK.COM — Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali menggelar tradisi adat Petang Belimau dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Rabu (18/2/2026) sore. Tradisi tahunan yang sarat nilai budaya dan spiritual ini diperkirakan diikuti sedikitnya 5.000 warga, seiring tingginya antusiasme masyarakat setiap tahun.
Ribuan warga tampak tumpah ruah memadati kawasan tepian Sungai Siak, Pekanbaru, sejak siang hingga menjelang sore hari. Arus kedatangan masyarakat terus meningkat, membuat suasana di pusat kegiatan semakin padat. Tradisi Petang Belimau yang telah menjadi ikon budaya Melayu Riau ini kembali menjadi magnet warga dari berbagai penjuru kota, bahkan luar daerah.
Kegiatan yang dipusatkan di Rumah Singgah Tuan Kadi, salah satu situs bersejarah di Pekanbaru, dipenuhi masyarakat yang ingin mengikuti rangkaian acara, mulai dari prosesi adat, kegiatan sosial, hingga hiburan rakyat. Lapangan dan halaman bangunan bersejarah tersebut nyaris tidak menyisakan ruang kosong, mencerminkan kuatnya ikatan emosional masyarakat terhadap tradisi leluhur.
Kepadatan massa juga terlihat hingga ke ruas jalan sekitar lokasi. Warga memadati akses menuju kawasan tepian Sungai Siak, sehingga aparat kepolisian dan panitia harus mengatur arus lalu lintas untuk mengurai kemacetan. Bahkan, keramaian menjalar hingga ke Jembatan Siak, di mana sejumlah warga memilih berdiri untuk menyaksikan prosesi Petang Belimau dari ketinggian, menciptakan pemandangan lautan manusia yang begitu memukau.
Antusiasme warga yang tinggi menjadikan tradisi tahunan ini berlangsung meriah dan penuh khidmat. Petang Belimau tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum refleksi, silaturahmi, serta penyucian diri menjelang Ramadan.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho dan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto, yang menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya Melayu.
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menyebutkan bahwa Petang Belimau merupakan warisan budaya tak benda masyarakat Melayu Riau yang memiliki nilai filosofis mendalam dan tidak ditemukan dalam bentuk yang sama di daerah lain.
“Ini adalah bentuk ungkapan syukur dan cara orang Pekanbaru menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang. Tradisi ini mengajarkan kita untuk membersihkan diri lahir dan batin,” ujar SF Hariyanto.
Ia menambahkan, tradisi Petang Belimau juga menjadi ruang perjumpaan sosial masyarakat lintas latar belakang, sehingga mampu memperkuat kohesi sosial.
“Dalam suasana seperti inilah sekat-sekat perbedaan mencair. Salah dan khilaf kita leburkan, agar ketika memasuki Ramadan, hati kita telah bersih dari perselisihan,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho tampak turut menyiramkan air dari selang mobil pemadam kebakaran ke kerumunan masyarakat sebagai simbol prosesi belimau massal.
“Ini adalah budaya yang memang menjadi kebahagiaan masyarakat dalam menyambut Bulan Suci Ramadan. Tradisi ini bukan sekadar acara, tetapi ekspresi kegembiraan kolektif warga Pekanbaru,” kata Agung Nugroho.
Menurutnya, Petang Belimau bukanlah kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan tradisi budaya lokal yang sarat nilai kearifan lokal, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat Melayu.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Agung juga menyantuni sejumlah anak yatim serta memandikan mereka dengan air limau sebagai bagian dari prosesi adat yang melambangkan penyucian diri dan doa keberkahan.
“Kita berbagi jelang Bulan Ramadan. Ada pembagian sembako dan bantuan sosial lainnya. Selain itu, kita juga melepas 10.000 bibit ikan patin ke Sungai Siak, sejalan dengan program ketahanan pangan dan pemberdayaan lingkungan yang dicanangkan Presiden Prabowo,” jelasnya.
Wali Kota Agung Nugroho menegaskan bahwa Petang Belimau merupakan ekspresi budaya masyarakat Melayu sebagai bentuk kegembiraan menyambut Ramadan sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Persiapan Petang Belimau akan diikuti minimal 5.000 masyarakat. Antusiasme warga sangat tinggi. Ini budaya yang menjadi kebahagiaan bersama dalam menyambut Ramadan,” ujarnya.
Kegiatan tahun ini kembali dipusatkan di Rumah Singgah Tuan Kadi, kawasan tepian Sungai Siak, yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan identitas bagi masyarakat Pekanbaru. Keberadaan situs ini semakin memperkuat pesan bahwa tradisi Petang Belimau bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga bagian dari identitas kultural kota.
Menurut Agung, Petang Belimau bukan kegiatan wajib secara syariat, tetapi tradisi sosial-budaya yang sarat nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan gotong royong. Rangkaian acara diisi dengan santunan anak yatim, pasar murah, pembagian sembako, hingga kegiatan sosial lainnya yang menyentuh langsung masyarakat.
“Kita juga menebar 10.000 bibit ikan patin ke Sungai Siak. Ini untuk meningkatkan populasi ikan patin sungai, mendukung ketahanan pangan, serta menjaga kelestarian ekosistem perairan,” katanya.
Agung menambahkan, kegiatan tersebut sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto terkait konsep Ruang Terbuka Hijau Biru (RTHB) guna menjaga keseimbangan lingkungan perkotaan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta menguatkan fungsi ekologis Sungai Siak sebagai urat nadi kehidupan Kota Pekanbaru.
Dengan semangat pelestarian budaya dan kolaborasi pemerintah daerah serta masyarakat, tradisi Petang Belimau diharapkan terus terjaga sebagai warisan budaya Melayu Riau yang hidup, sekaligus menjadi sarana edukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga identitas, toleransi sosial, dan harmoni lingkungan menjelang bulan suci Ramadan.























